Perseteruan Mahathir dan Anwar Ibrahim

Tuesday, April 27, 2010
PERSETERUAN antara Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dengan Anwar Ibrahim, mantan Wakil Perdana Menteri dan Menteri Perindustrian, tampaknya belum berakhir.

Ini terbukti dengan pernyataan yang cukup keras di lontarkan Mahathir belum lama ini yang menyatakan bahwa pemimpin oposisi dari Pakatan Rakyat, Anwar Ibrahim, sebagai orang yang haus kekuasaan.

Ia menilai bekas anak buahnya itu sangat berambisi menjadi perdana menteri. "Ambisi semacam ini dapat membuat seseorang gila," tuding Mahathir.

Mahathir juga menuding Anwar pernah berupaya menjatuhkan dirinya saat menjadi wakil perdana menteri. Namun ia tidak menjelaskan secara terperinci apa yang dilakoni musuh politiknya tersebut.

Perseteruan kedua tokoh ini, sebenarnya bermula dari pemecatan Anwar Ibrahim oleh Mahathir pada tahun 1998 atas kesalahan pelanggaran seksual dan penyalahgunaan kekuasaan. Anwar pada saat itu adalah Wakil Perdana Menteri dan Menteri Perindustrian.

Ketika itu, Anwar menyatakan bahwa ia dizalimi, apalagi dia hendak membongkar kasus-kasus korupsi dan nepotisme yang dilakukan Mahathir dan orang-orangnya yang berada di pusat kekuasaan.

Namun, pendukung Mahathir mempercaya bahwa upaya Anwar membongkar kasus-kasus tersebut terinspirasi oleh kejatuhan Presiden Soeharto di Indonesia atas isu yang sama.

Pada akhirnya, krisis Anwar membawa protes besar-besaran yang dikenal sebagai "Gerakan Reformasi" dan jadi Partai Keadilan Nasional (PKR) dalam Pemilu Malaysia 1999.

Namun demikian, PKR hanya memenangkan lima kursi parlemen pada pemilu tersebut dan hampir lenyap pada Pemilu Malaysia 2004 karena hanya memenangkan satu kursi parlemen di Permatang Pauh yang dimenangkan oleh istri Anwar, Dr Wan Azizah.

Partai tersebut berhasil mendapat kemenangan besar dalam Pemilu Malaysia 2008 dengan memenangkan 31 kursi parlemen, jumlah terbesar antara semua partai-partai oposisi di Malaysia.

Meski demikian, kelihatannya nasib baik belum berpihak pada Anwar Ibrahim. Pasalnya, pengadilan syariah Kuala Lumpur belum lama ini menolak permohonannya untuk mengadili Mohamad Saiful Bukhari Azlan. Lelaki 24 tahun itu telah menuding Anwar menyodomi dirinya.

Dalam gugatannya, mantan wakil perdana menteri itu menuduh Saiful berbohong karena tidak mampu menghadirkan empat saksi seperti yang diminta oleh syariat Islam.

Tak berhenti di situ, lagi-lagi Anwar di hadapkan persoalan yang tidak kalah pelik yang datang dari lawan-lawan politiknya.

Pekan lalu, Anwar Ibrahim, bakal diskors oleh parlemen setelah dewan memutuskan menyelidiki bekas Ketua Partai Keadilan Rakyat itu ihwal pernyataannya yang dianggap menyesatkan tentang slogan "1 Malaysia".

Sebelumnya, Anwar menuding konsep "1 Malaysia" yang diperkenalkan oleh Perdana Menteri Najib Razak dibuat oleh perusahaan asing yang berafiliasi dengan Israel. Sebab, konsep itu sama dengan program Israel Satu, yang dibuat oleh Perdana Menteri Israel Ehud Barak pada 1999.

Upaya reformasi dan demokratisasi di Malaysia yang dilakukan Anwar memang tidaklah mudah. Dan apa yang terjadi pada Anwar sebelumnya pernah terjadi di Indonesia. Karena itu dibutuhkan kecerdasan politik bagi Anwar untuk menghadapi lawan-lawan politiknya. Terutama dari partai berkuasa.

Adapun langkah politik Anwar menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh reformasi di Indonesia setidaknya mencerminkan bahwa Anwar memang butuh dukungan politik tidak hanya pada tokoh-tokoh oposisi, tetapi juga pemerintah Indonesia. (*)

0 comments:

Post a Comment