Gus Dur di Mata Kang Sobary

Saturday, April 24, 2010

Dalam pandangan mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafi'i Ma'arif, Indonesia beruntung sekali memiliki sosok seperti KH Abdurahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur. Dalam soal gerakan sosial, menurut tokoh yang juga kawan dekat, sumbangan terbesar Gus Dur adalah melahirkan generasi muda yang maju di kalangan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan di kalangan lintas iman.

Karena itu ia tetap optimis jika nilai-nilai pluralisme dan demokrasi akan mampu dilanjutkan oleh para pengagum dan generasi mudanya. "Tanpa Gus Dur tidak mungkin seperti sekarang ini. Salah satunya Ulil ini. Kalau tidak ada Gus Dur, tidak mungkin ada Ulil," katanya dalam sebuah kesempatan.

Tak hanya di Indonesia, sekarang ini menurut Buya Syafi'i, demikian ia akrab disapa, Gus Dur yang juga mantan aktivis prodemokrasi itu juga dikagumi orang-orang Amerika.
Tapi Syafi'i sendiri terus terang agak berbeda dari kebanyakan orang dalam menyikapi jiwa demokrat Gus Dur. "Gus Dur itu demokrat dalam wacana, tapi tidak kalau bergaul dengan kalangan NU," katanya.

Di mata Budayawan Emha Ainun Najib atau lebih akrab disapa Cak Nun, Gus Dur ibarat mutiara. Dia memiliki segudang kelebihan. Selain cerdas, sabar, dan ikhlas, Gus Dur loman (dermawan). Selama menjabat presiden, kata pria asal Jombang ini, Gas Dur tak pernah melakukan korupsi. Bahkan, sebelum meninggal, Gus Dur hanya memiliki uang Rp 200 ribu.

Lalu bagaimana Gus Dur di mata Mohamad Sobary, orang yang banyak menulis tentang Gus Dur, menyangkut interpretasi sikap dan wawasan politiknya, terutama selama masa Orde Baru yang tiranis di bawah Pak Harto.

Untuk tahu pandangan Kang Sobary, pangilan akrab Mohamad Sobary, maka ada baiknya Anda membaca karya terbaru Kang Sobary yang berjudul “Jejak Guru Bangsa, Mewarisi Kearifan Gus Dur”.

Menurut pengakuan Kang Sobary, buku ini ditulis dengan semangat memasukan ke dalam kandungannya beberapa dimensi penting yaitu: pendidikan (dalam arti luas), wawasan kebangsaan,sikap dan idealisme politik, aspirasi politik-kebudayaan, wawasan dan sikap keagamaan, pemikiran politik-keagaamaan, kebudayaan dan toleransi keagamaan, semangat meweujudkan gagasan Islam sebagai rahmatan lilialamin,perlindungan terhadap kaum tertindas, juga kaum minoritas,agama dan negara, kearifan hidup dan humor-humor yang sangat mewarnai,bahkan memberikan vitalitas pada hari-harinya yang ceria.

Meskipun begitu, kata Kang Sobary, penulisnya tak harus menggunakan tema-tema di atas sebagai subjudul. Kita boleh memakainya, boleh tidak.Maka buku kenangan ini dipaparkan seperti kita memutar kembali kepingan demi kepingan kisah hidupnya, tanpa dimaksudkan untuk menyusun sejarahnya semenjak dia lahir.

Tesk ini ibarat slide demi slide yang ditonton terpisah,bergantian,tetapi mampu memberi kita pemahaman mengenai Gus Dur sebagai pribadi,seorang tokoh humanis, pelindung kelompok tertindas, dan pendobrak kebekuan politik penguasa yang kejam dan tiranis.

Semua buku tentang Gus Dur, yang sudah lama ditulis, baik yang bersifat ilmiah dan mendalam maupun buku-buku tentang sikap serta wawasan politik dan humornya, yang ditulis secara populer, sudah Kang Sobary baca. Juga semua buku baru tentang Gus Dur, yang ditulis dengan tergopoh-gopoh, seolah kiamat hanya tinggal dua tahun lagi.

Menurut Kang Sobary, buku “ Jejak Guru Bangsa, Mewarisi Kearifan Gus Dur,” menampilkan Gus Dur menurut Gus Dur sendiri,utuh, sebagaimana adanya, dan jauh dari kendak menafsir, memberikan makna,memberikan label atau simbol-simbol,yang—sekali lagi—berisiko menjauhkan kita dari realitas ke-Gus Dur-annya.Maka di sini perang

Kang Sobary hanya menyajikan kesaksian demi kesaksian tentang segenap sikap dan sepak terjangnya, sementara, sebagai saksi, Kang Sobary sendiri sedang membisu.(*)

0 comments:

Post a Comment