Indonesia Mestinya Belajar dari Rusia

Friday, July 2, 2010

BARU-baru ini, Indonesia dan Rusia mengelar peringatan kerjasama bilateral kedua negara yang sudah berusia ke-60 tahun. Kedua negara memang memiliki pandangan yang sama untuk saling membangun dan tak segan memberikan input bagi kemajuan masing-masing negara dalam bidang sosial dan budaya, ekonomi, poltik, dan keamanan, serta investasi maupun pendidikan.

Baik Indonesia dan Rusia memang selalu terjalin hubungan yang harmonis dan nyaris tak ada cacat sepanjang melakukan hubungan kerjasama yang saling menguntungkan satu sama lain.

Tak terasa memang usia dari hubungan kerjasama kedua negara yang sangat bersahabat ini sudah menginjak yang ke-60 tahun menandakan masing-masing negara sudah tak asing lagi dalam berjalan bersama-sama membangun kepercayaan yang tak pernah luntur satu sama lain.

Khusus Indonesia, tentu kita harus banyak belajar dari Rusia bagaimana bangkit dari masa-masa keterpurukan. Setelah Uni Soviet runtuh, Rusia berusaha membangun ekonomi yang berantakan karena perlombaan sejata dengan Amerika Serikat dan Blok Barat.

Namun, krisis ekonomi Rusia malah semakin parah, kemiskinan meningkat, korupsi merebak, dan organisasi kriminal pun bermunculan.

Dalam "Bangkitnya Rusia: Peran Putin dan Eks KGB", Simon Saragih, wartawan senior harian Kompas, dengan pengalaman jurnalistiknya yang luas di bidang ekonomi dan internasional, menjelaskan, Rusia adalah salah satu negara yang paling parah terkena dampak krisis ekonomi pada tahun 1997. Setelah krisis ekonomi menimpa Thailand, efek domino krisis tersebut juga mengenai Indonesia, dan negara lainnya di Asia. Kemudian krisis tersebut juga berdampak lagi ke Rusia.

Namun, Rusia bisa bangkit dalam tempo yang relatif lebih cepat. Mengapa demikian?, tanya Simon Saragih. Ini tak lain karena elite Rusia cepat tanggap dan langsung melakukan tindakan penyelamatan. Berbeda dengan Indonesia, ia malah sibuk dengan diri sendiri, luput memetik pelajaran berharga dari rusia. Bangkitnya Rusia tak lain akibat kesadaran Rusia bahwa IMF bukan lagi lembaga penolong, malah lebih menghancurkan.

Menurut Simon, ada pola menarik di antara Rusia dan Indonesia. Pola ini sebenarnya sangat menarik untuk dipelajari. Pola tersebut juga sebenarnya sangat berguna ditelaah para elite Indonesia untuk membalikkan keadaan sosial, ekonomi dan politik Indonesia, yang sekarang belum menunjukkan perbaikan secara signifikan. Ini terutama menyangkut kepemilikan atas aset-aset yang berkaitan dengan kekayaan alam.

Pada akhir dekade 1990-an, Indonesia dan Rusia sama-sama berada di satu titik yang sama, yakni pergantian rezim. Namun setelah itu, arah perjalanan dua negara ini sama sekali bertolak belakang. Tanpa disadari, dua negara ini memiliki jalan yang sudah berbeda.

Pada Agsutus 1999, Vladimir Putin tampil sebagai Perdana Menteri atas penunjukkan Boris Yeltsin, yang saat itu menjabat sebagai Presiden Rusia. Siapa yang menyangka tampilnya Putin adalah titik awal kebangkitan Rusia. Sejak Putin menjabat, Rusia meraih kembali serangkaian prestasi yang membanggakan yakni ekonomi dan militer yang menguat, kemiskinan yang berkurang, ancaman terorisme yang memudar dan lainnya.

Hal utama dari tampilnya Putin adalah sikap kritis pada ideologi, sistem dan politik di balik bantuan barat yang menumpangi bantuan keuangan IMF, Bank Dunia, dan kreditor internasional, baik yang bergabung dalam London Club atau Paris Club.

Keberhasilan Putin membawa Rusia lebih maju bukanya tanpa kritik. Kusnanto Aggoro, pengamat Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia, mengatakan Rusia bukan negara demokrasi. Keberhasilan Presiden Putin adalah membangun Rusia yang kuat dari reruntuhan Uni Soviet, bukan menggantikan komunisme dengan demokrasi liberal.(Kompas, 5 Maret 2008)

Tahun 2007, Presiden Rusia terpilih sebagai the Man of the Year oleh Majalah Time, dengan tetap menyisakan sejumlah kontroversi apakah Putin seorang demokrat atau tiran. Tahun itu pula, untuk pertama kalinya Putin, masuk dalam daftar 12 diktator paling berkuas di dunia--yang di bekas negara-negara Soviet saja hanya dikalahkan oleh Islam Karimov (Uzbekistan, urutan ke-50 dan Saparmurat Niyazov( Turkmenistan, urutan ke-8). (*)

0 comments:

Post a Comment