Ketika Pilkada Langsung Digugat

Wednesday, August 4, 2010
JIKA Plato masih hidup dan tinggal di Indonesia. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya ketika konsep demokrasi langsung yang digagasnya menjadi perdebatan banyak orang. Mungkin saja dia tersenyum manis atau kecut, bahkan cuek saja.

Plato merupakan murid terbaik Socrates. Di masa hidupnya, Plato mengritik demokrasi langsung di negara kota atau Polis. Hal ini karena praktek demokrasi seperti itu berpotensi memunculkan praktek kekeliruan dalam memilih penguasa.

Plato berargumen manusia perlu diatur oleh orang yang punya akal sehat, merekalah yang pantas jadi pemimpin. Pembiaran kepada semua orang untuk berkuasa melalui proses demokrasi langsung ala Polis tidak benar hingga Plato menginginkan terbentuknya pemerintahan segelintir orang (oligarki) terdiri dari orang-orang terpelajar.

Berangkat dari pemikiran Plato dan dalam konteks Indonesia hari ini. Kita dihadapkan oleh perdebatan soal pilkada langsung atau tidak. Adalah Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud Md yang mendesak pemilihan kepala daerah langsung ditinjau ulang. Sebab, pemilihan langsung itu ternyata merusak moral masyarakat.

Mahfud menilai lebih baik sistem pemilihan dikembalikan ke sistem dulu. Jika lewat DPRD, korbannya lebih sedikit, sekitar 45 orang di kabupaten/kota. Atau paling banyak 150 orang di tingkat provinsi yang rusak mental, suap menyuap, melakukan kolusi, dan politik uang.

Di mata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Pilkada Langsung merupakan pilihan terbaik. Alasannya, pemilihan secara langsung membuat masyarakat daerah mengenal calon kepala daerahnya.

SBY menyadari dalam prakteknya memang masih ditemukan berbagai penyimpangan. Namun demikian, kata SBY, bukan berarti menafikan manfaat dari pemilihan langsung. Dia justru meminta agar dampak negatif negatif itu dapat diatasi.

Terkait dengan persoalan ini, sebenarnya banyak orang tidak perduli apakah kepala daerah dipilih langsung atau tidak. Apalagi ada anggapan bahwa demokrasi adalah sebuah alat atau cara untuk mencapai tujuan dan bukan tujuan itu sendiri.

Mengutip kata-kata Deng Xiaoping . "Saya tidak peduli, apa itu kucing putih atau kucing hitam, sejauh kucing itu bisa menangkap tikus, itu kucing yang baik".

0 comments:

Post a Comment